Patriotisme

JAKARTA (Suara Karya): Pemerintah terus menggencarkan kampanye gerakan cinta lagu nasional. Ini sebagai upaya mengembangkan jiwa patriotik di kalangan generasi muda. Salah satunya, dapat ditumbuhkan dengan menggalakkan kembali kecintaan masyarakat terhadap lagu kebangsaan Indonesia.

Hal itu dikemukakan Menteri Negara Pemuda dan Olahraga Adhyaksa Dault, di Jakarta, kemarin. Adhyaksa menilai saat ini anak-anak muda hanya disuguhi lagu-lagu pop setiap hari di stasiun televisi.
“Saya mengimbau kepada stasiun televisi agar memperhatikan anak-anak sekolah yang setiap hari mengisi acara musik di stasiun televisi. Seharusnya itu kan jam sekolah. Program musik boleh saja asal kembangkan kembali juga lagu-lagu wajib nasional karena dapat membangkitkan nasionalisme,” katanya.
Semangat Kebangsaan
Ia berjanji untuk mendorong musisi Tanah Air membuat lagu-lagu yang membangkitkan semangat kebangsaan. “Saya salut dan bangga pada generasi muda yang berkarya untuk menunjukkan jati diri bangsa,” katanya. Adyaksa juga memberikan penghargaan terhadap penyelenggara kegiatan lomba yang bisa memberikan dampak positif terhadap generasi muda.
Pada kesempatan itu, Adhyaksa didaulat menyanyikan Indonesia Pusaka bersama peserta lomba. Usai membuka lomba, Adyaksa Dault tergerak menyumbangkan dana sebesar Rp 20 juta dari kantong pribadinya untuk diberikan kepada para pemenang lomba.
Sementara itu, Ketua Juri Lomba Paduan Suara dari Universitas Negeri Jakarta, Dian Herdiati mengatakan masih banyak lagu-lagu nasional yang dinyanyikan tidak sesuai nadanya. Hal itu menurut Dian karena bidang kesenian di sekolah banyak diajarkan oleh guru yang bukan kompetensinya. “Lagu-lagu wajib nasional yang dinyanyikan oleh siswa SD sampai SMA masih banyak kurangnya, seperti temponya tidak pas, pengambilan nadanya juga tidak tepat. Lagu Indonesia Raya misalnya, harusnya dinyanyikan dengan semangat tetapi banyak yang menyanyikannya tidak terlihat semangatnya,” katanya.
Dian mengatakan, hal itu terjadi karena guru kesenian di sekolah bukan guru yang kompeten di bidangnya. Sehingga kesalahan seperti kurang pas temponya kerap terjadi di ajang lomba seperti ini.
Ia juga mengatakan kurangnya ajang lomba paduan suara menyanyikan lagu-lagu wajib nasional menyebabkan anak-anak sekarang kurang familiar dengan lagu-lagu nasional. Dibandingkan tahun-tahun 1990-an, lomba seperti ini sudah jarang dilakukan.
Ketiadaan sarana untuk menyanyikan lagu-lagu wajib nasional di sekolah seperti upacara bendera juga menyebabkan anak-anak sekarang kurang dalam memahami makna lagu-lagu wajib nasional. “Seharusnya setiap hari di dalam kelas ada pelajaran kesenian yang mengajarkan lagu-lagu wajib nasional,” kata Dian. (Rully/Feber S)

garuda_pancasila.jpg
visit
ffacebook PP Australia


gepak
KPI